GAMBARAN UMUM KABUPATEN PASURUAN
1. Aspek Geografis dan Demografis
1.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah
A. Luas Dan Batas Wilayah Administrasi
Secara geografis, Kabupaten Pasuruan terletak pada koordinat 7,30'-8,30' Lintang
Selatan dan 112º30' -113º30' Bujur Timur. Luas wilayah Kabupaten Pasuruan sebesar 148.612,07 Ha dengan batas administrasi Kabupaten Pasuruan meliputi:
Sebelah Utara : Kabupaten Sidoarjo, Kota Pasuruan, dan Selat Madura
Sebelah Timur : Kabupaten Probolinggo
Sebelah Selatan : Kabupaten Malang
Sebelah Barat : Kabupaten Mojokerto dan Kota Batu
Wilayah Kabupaten Pasuruan terbagi dalam wilayah adminsitratif sebanyak 24 kecamatan dan 365 kelurahan/desa sebagaimana dirincikan dalam tabel berikut:
Tabel 1.1
B. Letak dan Kondisi Geografis
Secara geografis, Kabupaten Pasuruan terletak pada koordinat 7,30'-8,30' Lintang
Selatan dan 112o30'-113o30' Bujur Timur. Wilayah Kabupaten Pasuruan berada di jalur regional serta jalur utama perekonomian antara Kota Surabaya, Malang Raya, dan Kabupaten Banyuwangi. Posisi strategis Kabupaten Pasuruan memberikan peluang besar untuk kemajuan dan kesejahteraan daerah melalui berbagai sektor ekonomi dan sosial seperti aktivitas perdagangan, investasi, dan mobilitas, sehingga mendukung kemajuan dan kesejahteraan daerah secara keseluruhan. Berikut merupakan peta wilayah Kabupaten Pasuruan secara
keseluruhan :
Gambar 1.1 Peta Wilayah Kabupaten Pasuruan
Sumber : RTRW Kabupatn Pasuruan Tahun 2023-2043
C. Topografi
Kabupaten Pasuruan memiliki ketinggian antara 0 - 3.313 mdpl yang dirinci per wilayah administrasi kecamatan. Dataran rendah terdapat di bagian utara, tepatnya di Pesisir Selat Madura, dengan ketinggian 0 - 290 mdpl. Kawasan tersebut memiliki ancaman bencana banjir. Dataran tinggi berada pada bagian tenggara (Kawasan Gunung Bromo) dan bagian barat daya (Kawasan Gunung Welirang). Kawasan pegunungan di Kabupaten Pasuruan, sebagian memiliki kelerengan yang terjal atau curam, sehingga memiliki potensi bencana longsor. Berdasarkan tingkat kelerengan, Wilayah Kabupaten Pasuruan dapat dibagi menjadi tujuh (7) yaitu:
1. Kelerengan 0 - 2%: antara lain seluruh Kecamatan Bangil, Kecamatan Rembang, Kecamatan Kraton, Kecamatan Pohjentrek, Kecamatan Gondangwetan, Kecamatan Rejoso dan Kecamatan Lekok, sebagian Kecamatan Pasrepan, Kecamatan Kejayan, Kecamatan Wonorejo, Kecamatan Winongan, Kecamatan Grati dan Kecamatan Nguling.
2. Kelerengan 2 - 5%: antara lain sebagian Kecamatan Purwodadi, Kecamatan Tosari, Kecamatan Lumbang, Kecamatan Pasrepan, Kecamatan Kejayan, Kecamatan Wonorejo, Kecamatan Purwosari, Kecamatan Prigen, Kecamatan Sukorejo, Kecamatan Pandaan, Kecamatan Gempol, Kecamatan Beji, Kecamatan Winongan, Kecamatan Grati dan Kecamatan Nguling.
3. Kelerengan 5 - 8%: antara lain sebagian Kecamatan Purwodadi, Kecamatan Tutur, Kecamatan Puspo, Kecamatan Tosari, Kecamatan Lumbang, Kecamatan Pasrepan, Kecamatan Kejayan, Kecamatan Purwosari, Kecamatan Prigen, Kecamatan Sukorejo, Kecamatan Pandaan, Kecamatan Gempol, Kecamatan Beji, Kecamatan Winongan dan Kecamatan Lekok.
4. Kelerengan 8 - 15%: antara lain sebagian Kecamatan Purwodadi, Kecamatan Tutur, Kecamatan Puspo, Kecamatan Tosari, Kecamatan Lumbang, Kecamatan Pasrepan, Kecamatan Kejayan, Kecamatan Purwosari, Kecamatan Prigen, Kecamatan Pandaan, Kecamatan Gempol, Kecamatan Winongan dan Kecamatan Grati.
5. Kelerengan 15 - 25%: antara lain adalah sebagian Kecamatan Purwodadi, Kecamatan Tutur, Kecamatan Puspo, Kecamatan Tosari, Kecamatan Lumbang, Kecamatan Pasrepan, Kecamatan Purwosari, Kecamatan Prigen, Kecamatan Gempol dan Kecamatan Beji.
6. Kelerengan 25 - 45%: antara lain sebagian Kecamatan Purwodadi, Kecamatan Tutur, Kecamatan Puspo, Kecamatan Tosari, Kecamatan Lumbang, Kecamatan Purwosari, Kecamatan Prigen dan Kecamatan Gempol.
7. Kelerengan > 45%: antara lain adalah sebagian Kecamatan Tutur, Kecamatan Puspo, Kecamatan Tosari, Kecamatan Lumbang, dan Kecamatan Prigen.
Tabel 1.3
Jenis Batuan di Wilayah Kabupaten Pasuruan
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Pasuruan, 2024
Selanjutnya terkait jenis tanah di Kabupaten Pasuruan secara garis besar dikelompokkan dalam 6 (enam) kelompok besar yaitu:
1. Alluvial
a. Sifat dan Corak
- Warna kelabu, tekstur liat, keasaman aneka, dengan kandungan zat organik lemah dan tingkat kejenuhan sedang hingga tinggi
- Permeabilitas: rendah, Kepekaan erosi: tinggi tetapi karena daerahnya datar tidak sampai lanjut tingkatnya
b. Pemakaian: padi sawah, palawija dan perikanan
2. Regosol
a. Sifat dan Corak
- Warna: kelabu hingga kuning, Tekstur: pasir, Kadar liat: <40%, Keasaman: aneka, Zat organik: kadar rendah, Kejenuhan: aneka, Permeabilitas: tinggi, Kepekaan erosi: tinggi
b. Pemakaian: padi sawah, palawija, tebu dan sayuran
3. Andosol
a. Sifat dan Corak
- Warna: hitam hingga kuning, Tekstur: lempung hingga debu dan liat menurun, Keasaman: agak masam hingga netral, Zat organik: lemah, Kejenuhan: basa, Permeabilitas: sedang, Kepekaan erosi: besar
b. Pemakaian: sayuran, bunga-bungaan, teh, kopi dan hutan pinus
4. Grumusol
a. Sifat dan Corak
- Warna: kelabu hingga hitam, Tekstur: liat makin ke bawah makin meningkat, Keasaman: sedikit asam hingga alkalin, Zat organik: kadar rendah, Kejenuhan: basa tinggi, Permeabilitas: rendah, Kepekaan erosi: besar
b. Pemakaian: padi sawah, jagung, kedelai, tebu, kapas dan hutan jati
5. Mediteran
a. Sifat dan Corak
- Warna: kuning hingga merah, Tekstur: lempung liat, Keasaman: agak masam hingga netral, Zat organik: rendah, Kejenuhan: basa tinggi, Permeabilitas: sedang, Kepekaan erosi: besar hingga sedang
b. Pemakaian: padi sawah, tegalan dan rumput ternak
6. Latosol
a. Sifat dan Corak
- Warna: merah hingga kuning, Tekstur: liat tetap dari atas hingga ke bawah, Keasaman: masam hingga agak masam, Zat organik: kadar rendah hingga agak sedang di lapisan atas dan menurun ke bawah, Kejenuhan: basa rendah hingga sedang, Permeabilitas: tinggi, Kepekaan erosi: kecil
b. Pemakaian: padi sawah, jagung, umbian, kelapa, coklat, cengkeh, kopi maupun hutan tropika.
E. Hidrologi
Kabupaten Pasuruan memiliki sumber daya air yang melimpah, termasuk air permukaan dan air tanah. Selain sistem aliran sungai yang ada di wilayah Kabupaten Pasuruan, terdapat juga danau atau waduk alami yang cukup besar, serta beberapa mata air. Potensi air tanah akan dijelaskan melalui gambaran kondisi hidrogeologi. Kondisi hidrologi di wilayah Kabupaten Pasuruan dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Air Permukaan
Di wilayah Kabupaten Pasuruan, selain 7 (tujuh) sungai besar yang telah disebutkan di atas, juga terdapat beberapa sungai-sungai kecil. Dimana sungai-sungai (air permukaan) ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan air untuk pertanian dan perikanan, serta kebutuhan hidup lainnya. Selain potensi sungai, terdapat juga danau dan sejumlah mata air. Secara umum sungai-sungai yang melintasi wilayah Kabupaten Pasuruan merupakan sungai yang tidak terlalu panjang, di bagian hulunya memiliki kemiringan dasar sungai yang terjadi, dan ada beberapa sungai yang merupakan sungai musiman sehingga pada musim kemarau debit air tidak teratur. Sungai-sungai yang terdapat di Kabupaten Pasuruan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1.4
Sungai-sungai di Kabupaten Pasuruan
Sumber: Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup-Badan Lingkungan Hidup
2. Danau
Danau yang ada di wilayah Kabupaten Pasuruan adalah Danau Ranu Grati. Secara geografis, Danau Ranu Grati berada di Kecamatan Grati yang merupakan danau di dataran rendah Jawa Timur dengan volume efektif sebesar 5.013 m³ dan volume maksimum sebesar 5.217 m³, serta mampu mengeluarkan debit maksimum 980 l/det dan debit minimum 463 l/det. Danau Ranu Grati merupakan danau alami yang terbentuk karena aktivitas vulkanik gunung berapi. Bentuk menyerupai corong dengan dasar danau yang dalam dan mengandung sedimen mineral jadi bukti penguat status Danau Ranu Grati sebagai danau vulkanik. Selain rekreasi, danau ini juga banyak untuk keperluan irigasi.
3. Sumber Air
Sejumlah sumber air yang ada di Kabupaten Pasuruan yang terbesar adalah Sumber Air Umbulan di Kecamatan Winongan dengan debit maximumnya sekitar 4.000 l/det dan Sumber Air Banyu Biru yang terletak di Kecamatan Winongan dengan debit maximumnya 225 l/det. Beberapa sumber air yang terdapat di Kabupaten Pasuruan jumlah, serta debitnya seperti tercantum dalam tabel berikut:
Tabel 2.5
Jumlah Sumber Air Berdasarkan Kecamatan di kabupaten Pasuruan
Sumber : Dokumen KLHS Kabupaten Pasuruan, 2015
Dalam mencapai kebutuhan air yang berkelanjutan, dibutuhkan kondisi ketahanan air dimana terpenuhinya kebutuhan air yang layak dan berkelanjutan untuk kehidupan dan pembangunan serta terkelolanya risiko yang berkaitan dengan air (draft Jaknas Sumber Daya Air 2020- 2023) serta perhitungan Indeks Ketahanan Air sudah diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Ketahanan air sangat penting untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dimana kondisi air yang aman dan bermanfaat serta sebagai penguat negara sehingga bisa menjadi produktif dan meminimalisir daya rusak.
Gambar 1.3 Indeks Ketahanan Air di Kabupaten Pasuruan Tahun 2019-2023
Sumber: Dinas SDA, Tata Ruang dan Cipta Karya Kabupaten Pasuruan, 2024
Berdasarkan gambar di atas, dapat diketahui bahwa capaian Indeks Ketahanan Air Kabupaten Pasuruan tahun 2019-2022 mengalami tren peningkatan. Kondisi tersebut tentunya akan terus diperbaiki dengan cara menambah volume ketersediaan air terutama tampungan air, membangun embung-embung berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur maupun Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat, serta memperbaiki kondisi mata air yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Pasuruan dengan melakukan upaya konservasi dan rehabilitasi.
F. Klimatologi
Wilayah Kabupaten Pasuruan pada umumnya beriklim tropis basah yang sangat dipengaruhi oleh tiupan angin Muson. Angin Muson ini mempengaruhi pola iklim dan mengakibatkan terjadinya musim hujan (angin Muson Timur) dan musim kemarau (angin Muson Barat). Gambaran iklim yang ada di Kabupaten Pasuruan Tahun 2023 adalah sebagai berikut:
Gambar 1.3 Iklim Kabupaten Pasuruan
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Pasuruan, 2024
Kondisi penggunaan lahan ini jika dilihat berdasarkan kesesuaiannya dengan dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) pada tahun 2022 memiliki kesesuaian sebesar 80,92%. Sedangkan Persentase Kesesuaian Pemanfaatan Ruang terhadap Rencana Tata Ruang tahun 2023 mencapai 85% mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2022 yaitu 80,92%. Artinya, masih terdapat lahan yang belum digunakan sebagaimana mestinya sehingga perlu dilakukan penataan dan penertiban sesuai apa yang diamanatkan RTRW demi terselenggaranya pemanfaatan ruang terpadu, menyeluruh dan berwawasan lingkungan.
Penggunaan lahan di suatu daerah memiliki dampak signifikan terhadap Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (selanjutnya disebut IKLH). Deforestasi, urbanisasi dan pertanian intensif dapat mengurangi tutupan vegetasi, menyebabkan polusi dan degradasi tanah, serta mengurangi keanekaragaman hayati, yang semuanya menurunkan kualitas lingkungan. Sebaliknya, praktik penggunaan lahan yang berkelanjutan seperti pertanian organik dan rehabilitasi lahan terdegradasi dapat meningkatkan IKLH dengan menjaga kesuburan tanah, melindungi sumber daya air, dan meningkatkan keanekaragaman hayati.
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup di Kabupaten Pasuruan mulai dihitung sejak tahun 2018 dan menunjukan tren peningkatan selama kurun waktu 2018-2023. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 27 Tahun 2021, capaian Indeks Kualitas Lingkungan Hidup di Kabupaten Pasuruan tahun 2018-2023 termasuk dalam kategori "Sedang." Berikut merupakan gambar tren Indeks Kualitas Lingkungan Hidup di Kabupaten Pasuruan.
Gambar 1.5 Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasuruan
Sumber : Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasuruan, 2024
Berdasarkan gambar diatas dapat diketahui bahwa capaian Indeks Kualitas Lingkungan Hidup di Kabupaten Pasuruan hanya mengalami penurunan pada tahun 2022. Meskipun mengalami peningkatan pada tahun 2023, capaian Indeks Kualitas Lingkungan Hidup masih berkategori "Sedang."Â Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kualitas lingkungan hidup di Kabupaten Pasuruan masih harus ditingkatkan. Beberapa kondisi yang menjadi penyebab masih belum tingginya kualitas lingkungan hidup di Kabupaten Pasuruan dikarenakan sejak berakhirnya masa pandemi Covid-19, aktivitas masyarakat mulai berjalan dengan normal dan kegiatan industri beroperasi seperti semula sehingga mengakibatkan peningkatan timbulan air limbah yang masuk ke Sungai. Berkembangnya sektor usaha mikro atau kecil di akhir masa pandemi yang tidak diimbangi dengan penambahan fasilitas pengolahan air limbah sehingga meningkatkan beban pencemaran air Sungai. Selain itu, pendangkalan atau sedimentasi sungai akibat dari pembukaan lahan di wilayah hulu menyebabkan peningkatan limpasan air hujan dan eutrofikasi yang meningkatkan akumulasi nutrisi seperti fosfat dan nitrat yang masuk ke aliran Sungai. Peningkatan volume kendaraan di jalur-jalur transportasi juga memberikan efek pada kondisi lingkungan hidup dengan didukung oleh kegiatan industri yang telah beroperasi secara normal menyebabkan timbulan emisi cerobong dari pabrik sehingga mengakibatkan peningkatan beban pencemaran udara.
H. Potensi Pengembangan Wilayah
Kabupaten Pasuruan secara ekonomis memiliki beberapa keunggulan potensi daerah, apabila dapat dimanfaatkan dengan baik dapat meningkatkan perekonomian daerah.
1. Posisi wilayah yang strategis
Letak wilayah daerah Kabupaten Pasuruan, dilihat dari segi ekonomi sangat strategis, karena terletak pada segitiga jalur ekonomi Surabaya - Jember / Banyuwangi / Bali, Surabaya - Malang dan Malang - Jember / Banyuwangi / Bali, dilintasi Jalur Angkutan Kereta Penumpang dan Barang Surabaya - Bangil - Banyuwangi serta Surabaya - Bangil - Malang. Terlebih lagi dengan pembangunan Jalan Tol Porong - Gempol, Gempol - Pandaan, Pandaan - Malang, Gempol - Pasuruan, dan Pasuruan - Probolinggo semakin membuat Kabupaten Pasuruan menjadi pilihan yang tepat bagi pengembangan industri, dengan semakin pendeknya waktu tempuh ke Surabaya.
2. Ketersediaan infrastruktur
Infrastruktur atau juga disebut sebagai prasarana wilayah adalah fasilitas (baik berupa fisik maupun sistem) yang dipergunakan untuk memfasilitasi suatu sarana sehingga dapat berfungsi sesuai dengan tujuannya.Secara umum infrastruktur terdiri dari komponen utama jalan, jembatan, perumahan atau permukiman, air bersih, pengolahan sampah dan limbah, jaringan irigasi, jaringan drainase, energi, telepon dan komunikasi. Dengan adanya infrastruktur jalan yang telah menghubungkan hampir seluruh wilayah Kabupaten Pasuruan, sangat mendukung bagi perkembangan ekonomi, pariwisata, pertanian, industri, transportasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selain adanya prasarana jalan, sistem transportasi barang dan jasa juga didukung dengan adanya jalur kereta api yang melintasi wilayah Kabupaten Pasuruan. Jalur kereta api yang ada melayani 2 (dua) jurusan yaitu Surabaya - Bangil - Malang - Blitar dan Surabaya - Pasuruan - Jember - Banyuwangi. Sebagai daerah yang berbasis pada sektor pertanian dan industri di Kabupaten Pasuruan telah tersedia sistem jaringan irigasi yang mendukung produksi pertanian serta kawasan industri. Sistem jaringan irigasi yang ada di Kabupaten Pasuruan akan mampu mengairi lahan pertanian secara memadai melalui peningkatan pengelolaan irigasi partisipatif. Sementara Kawasan Industri lengkap dengan infrastruktur pengelolaan limbah dan fasilitas lainnya serta terkoneksi langsung dengan tol ke arah Surabaya - Malang - Banyuwangi/Bali. Beberapa komponen infrastruktur yang lain seperti air bersih, energi listrik, pipa gas, dan telekomunikasi juga telah tersedia dalam jumlah yang cukup memadai, sehingga dengan adanya infrastruktur yang telah terbangun akan sangat menunjang bagi perkembangan ekonomi dan wilayah.
3. Potensi Wisata
Kabupaten Pasuruan memiliki potensi wisata yang beragam, mulai dari wisata alam, wisata budaya dan religi, wisata buatan, wisata agro dan wisata minat khusus, berupa destinasi wisata yang menarik kunjungan wisatawan, baik domestik maupun manca negara. Salah satu destinasi wisata yang termasuk Kawasan Strategis Pariwisata Nasional adalah wisata Sunrise Puncak Penanjakan Gunung Bromo di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Wisata alam lainnya adalah : Air Terjun Kakek Bodho, Pemandian Alam Banyu Biru, Danau Ranu Grati, Sumber Air Umbulan, Air Terjun Coban Cemoro Gading, Air Terjun Sumber Nyonya, Air Terjun Putuk Truno, Air Terjun Coban Baung, Air Terjun Coban Jala, Air Terjun Rambut Moyo, Air Terjun Coban Waru, Pantai Pasir Panjang Kecamatan Lekok, Hutan Mangrove di Pantai Penunggul Kecamatan Nguling dan Hutan Mangrove di Kecamatan Kraton.
Wisata Budaya dan Religi antara lain Candi Laras, Candi Satrio Manggung, Candi Kebo Ireng, Candi Gununggangsir, Candi Belahan, Candi Sepilar, Candi Makutoromo, Candi Jawi, Goa Jepang/Inna Tretes, Makam Ki Ageng Penanggungan, Makam Sakerah, Dewa Wisata Situs Purbakala Tambak Sari, Makam Mbah Bangil, Makam Mbah Ratu Ayu, Makam Mbah Semendhi, Makam Mbah Segoropuro, Pertapaan Abiyoso, dan Pertapaan Indrokilo. Wisata Buatan antara lain Saygon Water Park dan Taman Dayu Water Park. Sedangkan Wisata Agro antara lain Agrowisata Apel di Kecamatan Tutur, Agro Kopi di Kecamatan Tutur dan Kecamatan Prigen, Agro Bunga Krisan dan Paprika di Kecamatan Tutur, Peternakan Sapi Perah di Kecamatan Tutur dan Kecamatan Grati, Agro Jamur di Kecamatan Sukorejo dan Kecamatan Purwodadi, Agro Durian di Kecamatan Lumbang, Kecamatan Purwodadi, Kecamatan Tutur dan Kecamatan Puspo, Agro Wisata Bhakti Alam di Kecamatan Tutur, Agro PG Kedawung di Kecamatan Grati, Agro Mangga di Kecamatan Rembang dan Kecamatan Sukorejo, Kebun Pak Budi di Kecamatan Purwosari, Kebun Bunga Sedap Malam di Kecamatan Rembang dan Kecamatan Bangil. Wisata Minat Khusus antara lain Taman Safari Indonesia II, Taman Dayu, Finna Golf & Country Club, Kaliandra, Bukit Flora dan Baung Camp serta Desa Wisata yang tersebar di Kecamatan Tosari, Kecamatan Tutur, Kecamatan Purwodadi, Kecamatan Purwosari, Kecamatan Grati, Kecamatan Gempol, Kecamatan Prigen dan Kecamatan Winongan yang dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS), Desa-Desa Wisata dan kelompok-kelompok Sadar Wisata inilah yang akan terus berkembang dengan melibatkan sebanyak-banyaknya masyarakat sehingga berdampak terhadap penciptaan lapangan kerja di pedesaan yang diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan ke seluruh wilayah Kabupaten Pasuruan. Kabupaten Pasuruan secara bertahap akan mengembangkan branding wisata halal yang tidak hanya terkonsentrasi pada infrastruktur saja tetapi juga pengembangan kuliner, destinasi wisata, akomodasi dan lainnya.
Potensi industri di Kabupaten Pasuruan meliputi industri besar, menengah, dan kecil. Industri besar sebagian besar berlokasi di Kecamatan Gempol, Kecamatan Beji, Kecamatan Pandaan, Kecamatan Sukorejo, Kecamatan Rembang, Kecamatan Purwosari, Kecamatan Purwodadi, Kecamatan Wonorejo, Kecamatan Bangil dan Kecamatan Kejayan. Industri kecil dan menengah berkembang di perdesaan, antara lain bergerak dalam bidang : makanan dan minuman, bordir, Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), Konveksi, Meubel kayu, dan Logam. Salah satu industri kecil menengah yang menjadi unggulan adalah kerajinan bordir, konveksi dan batik. Kerajinan bordir di Kecamatan Bangil telah dikenal memiliki keunggulan desain dan kualitas sehingga pesanan melebihi kapasitas yang ada, solusinya pengerjaan pesanan tersebut disebar ke kecamatan-kecamatan lain seperti Kecamatan Beji, Kecamatan Wonorejo, Kecamatan Rembang, Kecamatan Pandaan, Kecamatan Sukorejo dan Kecamatan Winongan. Produk kerajinan bordir disamping untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal juga mampu menembus pasaran ekspor (Brunei, Malaysia, Singapura dan Timur Tengah). Sedangkan industri konveksi paling banyak di Kecamatan Gempol dengan produk utamanya celana jeans, kaos dan celana sport. Sementara industri batik warna alam telah menunjukkan jati dirinya dan dikagumi oleh konsumen dalam dan luar negeri seperti Korea, Malaysia dan Australia. Sentra industri kayu, antara lain di Desa Sentul Kecamatan Purwodadi, Desa Tambaksari Kecamatan Kraton, Desa Wonorejo Kecamatan Wonorejo, Desa Sungikulon dan Desa Sungiwetan Kecamatan Pohjentrek, Kecamatan Winongan, Kecamatan Rejoso serta Kecamatan Kraton. Pengrajin kayu menghasilkan mainan anak-anak, setir mobil, kotak tissue, handle perseneling, dashboard, catur dan lain-lain. Selain kerajinan kayu di wilayah Kabupaten Pasuruan juga berkembang industri meubel. Pemasaran kerajinan kayu dan meubel tersebut mencakup wilayah lokal dan luar negeri. Kerajinan perak dihasilkan dari sentra-sentra industri kerajinan perak meliputi Kecamatan Bangil dan Kecamatan Gempol. Produk-produk yang dihasilkan telah menembus pasar luar negeri, antara lain Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa.
Sementara Industri Kecil spare part kendaraan bermotor telah berkembang di Kecamatan Winongan dengan pasar terbesarnya ke Malang dan Surabaya. Selain itu di Kabupaten Pasuruan terdapat kawasan industri yaitu Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), suatu kawasan berikat yang menjadi tempat potensial untuk berinvestasi yang aman dan menjanjikan. Di luar kawasan industri PIER masih terdapat kawasan peruntukan industri yang memungkinkan pengembangan kawasan industri baru. Industri kecil makanan minuman yang rata-rata berbahan baku lokal tumbuh pesat di seluruh kecamatan. Sentra pia di Kecamatan Gempol terus tumbuh dan berkembang dan mampu menyerap banyak tenaga kerja karena bersifat padat karya. Pia telah dipasarkan ke luar daerah utamanya Malang dan Surabaya. Industri olahan apel, kopi dan susu tumbuh di Kecamatan Tutur. Industri aneka keripik di Kecamatan Sukorejo, Kecamatan Pandaan, Kecamatan Prigen, Kecamatan Tosari dan Kecamatan Purwodadi. Industri olahan ikan berkembang di Kecamatan Rejoso, Kecamatan Lekok, Kecamatan Grati, Kecamatan Bangil dan Kecamatan Beji. Industri minuman pokak di Kecamatan Winongan dan sirup serta dodol salak di Kecamatan Gondangwetan. Berkembangnya sentra-sentra industri potensial memberikan harapan baru bagi pertumbuhan ekonomi sektor riil di daerah yang diharapkan akan mengentaskan kemiskinan. Berkembangnya industri kecil menengah ditopang oleh berkembangnya tempat-tempat pemasaran produk seperti Kawasan Masjid Cheng Hoo dan Pasar Buah Pandaan, Sentra Produk Unggulan di Bangil, Taman Dayu serta Sentra Kulakan produk UMKM/IKM di Kecamatan Gempol.
5. Potensi Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Perikanan
Wilayah Kabupaten Pasuruan memiliki potensi pertanian yang cukup besar sehingga mampu menghasilkan produk-produk pertanian tanaman pangan dan hortikultura yang berkualitas antara lain padi, jagung, kentang, paprika, wortel, mangga, durian, apel, bunga sedap malam dan krisan. Sedangkan potensi hasil perkebunan yang menjadi komoditas unggulan dan dapat terus dikembangkan meliputi tebu dan kopi, Sentra tananam tebu tersebar di Kecamatan Grati, Kecamatan Winongan,
Kecamatan Gondangwetan, Kecamatan Nguling dan Kecamatan Kejayan, Sentra tanaman Kopi di Kecamatan Tutur, Kecamatan Purwodadi, Kecamatan Purwosari, Kecamatan Prigen, Kecamatan Lumbang, Kecamatan Pasrepan, Kecamatan Puspo, dan Kecamatan Tosari. Komoditas perikanan di Kabupaten Pasuruan meliputi perikanan budidaya dan perikanan tangkap. Potensi perikanan budidaya antara lain : udang, bandeng, patin, tombro, nila, gurami dan lele. Sedangkan potensi perikanan tangkap antara lain : tongkol, teri nasi, cumi-cumi, kakap dan lain-lain. Selanjutnya inovasi teknologi budidaya perikanan harus terus ditingkatkan dengan mengedepankan kemampuan sumberdaya alam, daya dukung dan daya tampung. Potensi hasil peternakan yang menjadi unggulan Kabupatan Pasuruan adalah sapi perah, sapi potong, kambing, domba dan unggas, Hasil produksi sapi perah adalah susu segar yang ditampung oleh koperasi dan selanjutnya dikirim ke industri pengolahan susu antara lain PT. Nestle Kejayan Pasuruan, PT. Indolakto di Purwosari dan PT. Frisian Flag Indonesia. Disamping itu tumbuh dan berkembang Usaha Mikro Kecil Menengah olahan produk pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan seperti pia, kopi bubuk, kerupuk susu, susu pasteurisasi aneka rasa, dendeng daging, nugget ikan, bakso ikan, ikan crispy, telur asin dan aneka jenis olahan pangan lainnya. Salah satu komoditas unggulan adalah telur asin dari itik yang diproduksi di Kecamatan Grati dan Kecamatan Gempol.
Dengan melihat semua potensi diatas diharapkan Kabupaten Pasuruan dapat mewujudkan tujuan ke 2 SDGs yaitu Tanpa Kelaparan (Zero Hunger) dimana inti dari tujuan itu adalah untuk menghilangkan kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan gizi yang baik serta meningkatkan pertanian berkelanjutan. Salah satu indikator yang menjadi tolak ukur ketercapaian tujuan tersebut adalah prevalensi ketidakcukupan pangan atau Prevalence of Undernourishment (PoU). Ketidakcukupan konsumsi pangan (undernourishment) didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana seseorang, secara regular, mengonsumsi sejumlah makanan yang tidak cukup untuk menyediakan energi yang dibutuhkan untuk hidup normal, aktif, dan sehat yang dinyatakan dalam persentase :
Adapun Kondisi prevalensi ketidakcukupan pangan Kabupaten Pasuruan Tahun 2018-2023 dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
Gambar 1.7 Prevalensi Ketidakcukupan Pangan Kabupaten Pasuruan
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Pasuruan, 2024
6. Potensi Sumberdaya Alam
Potensi Sumberdaya alam yang dimaksud disini adalah sumberdaya alam baik di permukaan bumi maupun didalam bumi. Sumberdaya alam di permukaan bumi antara lain (potensi unsur hara yang subur untuk pertanian dalam arti luas), cukup banyak sumber air permukaan (danau/ranu grati, sumber/mata air yang mengalir di beberapa sungai), potensi keindahan alam pegunungan, air terjun, dan sebagainya. Sedangkan sumberdaya alam di dalam bumi baik yang sudah tereksploitasi maupun belum secara garis besar terdiri dari potensi bahan tambang galian C (batuan, pasir, tanah urug, dan sebagainya) dan potensi air bawah tanah. Berbagai macam potensi tersebut, pada satu sisi merupakan potensi yang dapat dieksploitasi untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat namun di sisi lain harus tetap mengutamakan keseimbangan ekosistem dan kelestarian lingkungan.
I. Kawasan Rawan Bencana
Kawasan rawan bencana adalah wilayah atau area yang memiliki tingkat risiko yang tinggi untuk mengalami berbagai jenis bencana alam atau bencana yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Hal ini tidak terlepas dari kondisi geofisik wilayah Kabupaten Pasuruan yang memiliki keberadaan gunung berapi, adanya dataran rendah dan kondisi dataran tinggi yang mulai terdegradasi menjadikan Kabupaten Pasuruan memiliki beberapa potensi bencana alam yaitu:
1. Kawasan Rawan Bencana Gunung Berapi
Kawasan Gunung Bromo seluas 1.320 ha dan daerah waspada seluas 751 Ha yang berada di Desa Ngadirejo, Mororejo, Wonokitri dan Desa Kedawung di Kecamatan Tosari dan Gunung Welirang, sedangkan kawasan rawan bencana gunung berapi di Gunung Welirang seluas 1.368 Ha dan waspada seluas 809 Ha yang meliputi sebagian dari Desa Lumbangrejo dan Kelurahan Pecalukan di Kecamatan Prigen, Desa Cendono, Desa Sumberejo dan Desa Tambaksari di Kecamatan Purwosari.
2. Kawasan rawan longsor/kerawanan gerakan tanah
Potensi kawasan longsor di Kabupaten Pasuruan teridentifikasi seluas 37.626,4 ha, yaitu di wilayah dengan kelerengan > 40%. Wilayah tersebut berada di Kecamatan Tutur, Kecamatan Puspo, Kecamatan Tosari, Kecamatan Lumbang dan Kecamatan Prigen.
3. Kawasan rawan banjir
Potensi kawasan rawan banjir di Kabupaten Pasuruan teridentifikasi seluas 11.948,15 ha, berada di Kecamatan Gempol, Kecamatan Beji, Kecamatan Rembang, Kecamatan Bangil, Kecamatan Kraton, Kecamatan Grati, Kecamatan Pohjentrek, Kecamatan Gondangwetan, Kecamatan Rejoso, Kecamatan Winongan, karena merupakan daerah hilir yang dipengaruhi adanya daerah aliran sungai. Kondisi banjir ini diakibatkan adanya hujan di hulu sungai cukup tinggi, sehingga mengakibatkan air meluap, serta beberapa kecamatan lagi yaitu Kecamatan Lekok dan Kecamatan Kraton merupakan daerah rawan banjir yang biasanya disebabkan adanya rob.
4. Kawasan rawan bahaya angin puyuh/puting beliung
Berpotensi di Kecamatan Gempol, Pandaan dan Sukorejo, serta kemungkinan beberapa kecamatan lain mengingat terjadinya anomali iklim pada beberapa tahun terakhir.
5. Kawasan rawan bencana kebakaran hutan
Berpotensi terjadi di beberapa wilayah Kabupaten Pasuruan yang merupakan kawasan hutan dan semak belukar diantaranya beberapa yang merupakan Kawasan Hutan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kawasan Hutan Lindung dan Hutan Produksi pengelolanya adalah Perhutani, Kawasan Cagar Alam (CA) Gunung Baung, CA Gunung Abang, TWA Tretes, Kawasan Hutan/Pegunungan di R.Soeryo, Kawasan Pegunungan Arjuna Welirang dan Penanggungan (Kecamatan Purwosari, Kecamatan Prigen, Kecamatan Gempol).
6. Kekeringan
Ancaman kekeringan yang terjadi di Kabupaten Pasuruan terbagi atas 3 tingkatan, yaitu : a. Ancaman kekeringan tinggi, berpotensi terjadi di beberapa desa berikut ini : Kecamatan Lumbang (Desa Kronto, Desa Pancur, Desa Karang Asem, Desa Cukurguling, Desa Lumbang, Desa Bulukandang, Desa Karangjati, dan Desa Watulumbung), Kecamatan Kejayan (Desa AmbalAmbil, Desa Klangrong, Desa Oro- Oro Pule, Desa Lorokan, Desa Kedungpengaron, dan Desa Benerwojo), Kecamatan Lekok (Desa Pasinan, Desa Wates, Desa Semedusari, dan Desa Branang), Kecamatan Winongan (Desa Kedungrejo, Desa Umbulan, Desa Jeladri, Desa Sumberejo, dan Desa Sruwi), Kecamatan Puspo (Desa Palangsari, Desa Puspo, dan Desa Jimbaran), Kecamatan Gempol (Desa Bulusari), Kecamatan Grati (Desa Karanglo). b. Ancaman kekeringan sedang terjadi di Kecamatan Pasrepan (Desa Sapulante, Desa Mangguan, Desa Petung, Desa Sibon, Desa Lemahbang, Desa Tambakrejo). c. Ancaman kekeringan rendah terjadi di Kecamatan Lumbang (Desa Banjarimbo dan Desa Welulang), dan Kecamatan Winongan (Desa Minggir).
Adanya potensi kebencanaan sebagaimana disebutkan di atas dipotret melalui Indeks Risiko Bencana (Selanjutnya disebut IRB) yang digunakan untuk menilai kemungkinan dampak yang diperkirakan akan terjadi apabila suatu ancaman menjadi bencana di Kabupaten Pasuruan. IRB adalah gabungan nilai indeks ancaman, kerentanan, dan kapasitas. Hasil dari pengkajian risiko bencana digunakan sebagai dasar untuk upaya pengurangan resiko bencana melalui pengurangan aspek bahaya dan kerentanan serta meningkatkan kapasitas. tren capaian nilai IRB Kabupaten Pasuruan disajikan dalam gambar berikut :
Gambar 1.8 Indeks Risiko Bencana Kabupaten Pasuruan Tahun 2019-2023
Sumber : Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pasuruan, 2024
Nilai Indeks Risiko Bencana Kabupaten Pasuruan selalu mengalami penurunan disetiap tahunnya dari tahun 2019 hingga tahun 2023 yang telah masuk kategori sedang. Hal ini salah satunya didorong oleh adanya perkembangan jumlah desa tangguh bencana di Kabupaten Pasuruan tahun 2019 sebanyak 6 desa/kelurahan, tahun 2020 sebanyak 10 desa/kelurahan, tahun 2021 sebanyak 14 desa/kelurahan, tahun 2022 sebanyak 18 desa/kelurahan dan tahun 2023 sebanyak 20 desa/kelurahan.
Penurunan nilai IRB selaras dengan terjadinya peningkatan kapasitas pemerintah Kabupaten Pasuruan dalam mengelola bencana yang diiringi komponen kelembagaan, peringatan dini, pendidikan, mitigasi, dan kesiapsiagaan yang dipresentasikan oleh kenaikan nilai Indeks Ketahanan Daerah sebagaimana disajikan dalam gambar berikut :
Gambar 1.9 Indeks Ketahanan Daerah Kabupaten Pasuruan Tahun 2019-2023
Sumber : Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pasuruan, 2024
Bencana alam yang terjadi selain pada daerah rawan bencana dapat disebabkan dari dampak negatif perubahan iklim. Perubahan iklim ini akan berdampak terhadap sektor ekonomi, Kesehatan manusia dan kestabilan ekosistem. Dampak perubahan iklim yang mengancam secara langsung adalah kenaikan muka air laut dan peningkatan kejadian cuaca ekstrim. Mitigasi perubahan iklim dilakukan untuk mengurangi dampak perubahan iklim terhadap kehidupan. Kegiatan inventarisasi GRK merupakan salah satu upaya mitigasi perubahan iklim. Untuk mengurangi dampak negative dari perubahan iklim, perlu mengurangi emisi gas rumah kaca. Intensitas emisi GRK dapat dilihat dari potensi penurunan GRK dengan satuan TON EQ CO2. Potensi penurunan GRK Kabupaten Pasuruan, yang dapat dilihat dari Aplikasi AKSARA menunjukkan kenaikan yg signifikan dari tahun 2020 sebesar 1.752,18 TON EQ CO2, tahun 2021 sebesar 2.740,44 TON EQ CO2 (naik 988,26 dari tahun 2020), tahun 2022 sebesar 3.768,72 TON EQ CO2 (naik 1.028,28 dari tahun 2021) dan tahun 2023 sebesar 3.995,34 (naik 226,63 dari tahun 2022). Kenaikan potensi tersebut menunjukkan komitmen pemerintah mengurangi emisi Gas Rumah Kaca.
Gambar 1.10 Potensi Penurunan GRK di Kabupaten Pasuruan Tahun 2020-2023
Sumber : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Pasuruan, 2024
1.2. Demografi
Penduduk merupakan salah satu modal dasar pembangunan. Kondisi penduduk tidak hanya diperhatikan pada aspek kuantitas namun juga aspek kualitas. Jumlah penduduk yang besar tanpa didukung dengan kualitas akan menimbulkan permasalahan dan menjadi hambatan dalam pelaksanaan pembangunan.
A. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk
Selama kurun waktu lima tahun (2019 2023) berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Pasuruan, jumlah penduduk Kabupaten Pasuruan mengalami tren kenaikan dengan rata-rata pertumbuhan 0,11%. Secara lebih lengkap, berikut merupakan matriks perkembangan jumlah dan laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Pasuruan dalam rentang tahun 2019-2023 :
Gambar 1.11 Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Pasuruan, 2023 (Data diolah)
Perkembangan laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Pasuruan mengalami perlambatan dalam lima tahun. Hal ini mengindikasikan keberhasilan program pengendalian penduduk di Kabupaten Pasuruan.
B. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur
Persentase penduduk tahun 2023 menurut kelompok umur menempatkan kelompok usia 0-14 tahun dengan kontribusi 22,95%, kelompok usia 15-64 tahun sebesar 69,67% dan kelompok usia di >65 tahun sebanyak 7,38% terhadap keseluruhan jumlah penduduk. Berdasarkan data tersebut maka diperoleh angka rasio ketergantungan (dependency ratio) sebesar 43,53 dengan pengertian bahwa dari setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sebanyak 43-44 penduduk usia nonproduktif (usia muda dan usia tua). Jika dibandingkan tahun 2019 angka ketergantungan sebesar 40,74 (data BPS Jawa Timur) maka beban yang ditanggung penduduk usia produktif semakin bertambah. Oleh karena itu upaya yang harus dilakukan adalah mengoptimalkan penduduk usia produktif dengan menekan jumlah pengangguran sehingga dapat meningkatkan taraf ekonomi melalui lapangan kerja formal dan informal.
Tabel 1.6 Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur di Kabupaten Pasuruan Tahun 2023
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Pasuruan, 2023
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui jika jumlah penduduk pada tahun 2023 dengan pengelompokkan umur tertinggi adalah pada kelompok umur 5-9 tahun dengan jumlah penduduk 131.724 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk dengan pengelompokkan umur terendah adalah pada kelompok umur 70-74 tahun dengan jumlah penduduk 33.368 jiwa.
Gambar 1.12 Piramida Penduduk Kabupaten Pasuruan Tahun 2023
Sumber: Badan Pusast Statistik Kabupaten Pasuruan, 2024
Piramida penduduk adalah gambar yang menampilkan komposisi umur dan jenis kelamin dari suatu populasi. Piramida penduduk Kabupaten Pasuruan tahun 2023 merupakan jenis ekspansif. Piramida ekspansif menunjukkan penduduk di suatu wilayah berada dalam keadaan bertumbuh. Karakteristik piramida penduduk ekspansif yaitu:
1. Sebagian besar berada pada kelompok penduduk usia muda;
2. Kelompok usia tua jumlahnya sedikit;
3. Tingkat kelahiran bayi tinggi;
4. Pertumbuhan penduduk tinggi.
C. Persebaran, Kepadatan Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin Menurut Kecamatan
Persebaran atau distribusi penduduk adalah bentuk penyebaran penduduk di suatu wilayah. Persebaran penduduk Kabupaten Pasuruan dari tahun 2019 sampai 2023 pada 24 kecamatan menunjukkan bahwa jumlah penduduk terbanyak berada di Kecamatan Gempol yaitu sekitar 8% lebih dari total seluruh penduduk di Kabupaten Pasuruan. Sedangkan kecamatan dengan jumlah penduduk paling sedikit berada di Kecamatan Tosari karena hanya 1,4 persen seluruh penduduk di Kabupaten Pasuruan tinggal di Kecamatan Tosari pada tahun 2023.
Tabel 1.7 Persebaran Penduduk di Kabupaten Pasuruan
Tahun 2019-2023 (Jiwa)
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Pasuruan, 2024
Kepadatan penduduk idealnya adalah satu kilometer persegi dihuni oleh 500 orang. Artinya, semakin besar angka kepadatan penduduk, maka semakin padat penduduk yang mendiami wilayah tersebut. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Pasuruan, kepadatan penduduk tertinggi di Kecamatan Pohjentrek sebesar 2.672,6 jiwa/km2, artinya padat dan tidak ideal, sedangkan kepadatan penduduk terendah di Kecamatan Tosari sebesar 192,2 jiwa/km2 dimana angka ini masih ideal. Secara keseluruhan, hanya terdapat tiga wilayah kecamatan yang berada dalam kondisi kepadatan wilayah ideal yaitu Kecamatan Tosari, Kecamatan Lumbang dan Kecamatan Pasrepan. Berikut secara lengkap merupakan kepadatan penduduk per kecamatan di wilayah Kabupaten Pasuruan:
Tabel 1.8 Kepadatan Penduduk per Kecamatan di Kabupaten Pasuruan
Tahun 2020-2023 (Jiwa/Km2)
Sumber: Kabupaten Pasuruan dalam Angka, 2024
Rasio Jenis Kelamin (Sex Ratio) adalah perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki dan jumlah penduduk perempuan di suatu daerah atau negara pada suatu waktu tertentu yang biasanya dinyatakan dalam banyaknya penduduk laki-laki per 100 penduduk perempuan. Berdasarkan tabel di bawah dapat diketahui bahwa dari tahun 2020 sampai 2022 jumlah penduduk laki-laki lebih tinggi dibandingkan jumlah penduduk perempuan. Akan tetapi pada tahun 2023, jumlah penduduk perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah penduduk laki-laki.
Tabel 1.11 Rasio Jenis Kelamin per Kecamatan di Kabupaten Pasuruan
Tahun 2020 - 2023
D. Komposisi Penduduk berdasarkan Ketenagakerjaan
Jumlah angkatan kerja di Kabupaten Pasuruan mengalami peningkatan dari tahun 2020 sampai 2023. Sedangkan penduduk yang termasuk bukan angkatan kerja selalu mengalami penurunan. Penduduk yang berusia 15 tahun ke atas mengalami penurunan pada tahun 2023, akan tetapi Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja mengalami peningkatan. Peningkatan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja pada tahun 2023 dikarenakan jumlah penduduk yang bekerja mengalami peningkatan sedangkan jumlah penduduk yang menganggur menurun.
Tabel 1.12
Kondisi Ketenagakerjaan di Kabupaten Pasuruan Tahun 2020-2023
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Pasuruan, 2024
Tabel 1.13
Komposisi Penduduk Menurut Pekerjaan di Kabupaten Pasuruan
Tahun 2020-2023 (Jiwa)
Sumber: Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Pasuruan, 2024 (Data diolah)
Berdasarkan tabel berikut dapat diketahui bahwa komposisi penduduk di Kabupaten Pasuruan selama tahun 2020-2023 jika dilihat dari pekerjaan, paling banyak bekerja sebagai Karyawan Swasta/BUMN/BUMD/Honorer. Hal tersebut dipengaruhi banyaknya perusahan di Kabupaten Pasuruan sehingga sebagian besar penduduknya memilih untuk bekerja sebagai Karyawan Swasta, Sedangkan jenis pekerjaan yang paling sedikit dilakukan oleh Penduduk di Kabupaten Pasuruan adalah Pembantu Rumah Tangga.
E. Komposisi Penduduk berdasarkan Pendidikan
Komposisi penduduk di Kabupaten Pasuruan selama tahun 2020-2023 jika dilihat dari tingkat pendidikan paling banyak yang masih Tamat SD/sederajat sedangkan yang paling sedikit adalah S2/S3. Jika dilihat dari kontribusinya, penduduk yang belum tamat SD/sederajat, tamat SD/sederajat dan tamat SLTP/sederajat mengalami penurunan sedangkan penduduk yang tidak/belum sekolah, penduduk yang tamat SLTA/sederajat, D1/D2/D3, D4/S1 dan S2/S3 mengalami peningkatan. Komposisi penduduk di Kabupaten Pasuruan menurut pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut.