Setelah tiga bulan mengikuti masa basis, ribuan siswa-siswi dari 6 SMAN Taruna di Jawa Timur, akhirnya mengikuti upacara pembaretan.
Upacara tersebut digelar di Pusdik Brimob Watukosek, Gempol, Kabupaten Pasuruan, Kamis (8/10/2026) dan dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
Total sebanyak 1.334 siswa dan siswi dari enam SMAN Taruna di Jawa Timur yang mengikuti pembaretan, yakni SMAN Taruna Nala, SMAN Taruna Angkasa, SMAN Taruna Bhayangkara, SMAN Taruna Brawijaya, SMAN Taruna Madani, serta SMAN Taruna Pamong Praja.
Dalam sambutannya, Gubernur Khofifah mengungkapkan rasa bangganya atas daya tahan serta kedisiplinan tinggi yang ditunjukkan seluruh taruna dan taruni selama berada di kawah candradimuka.
Dirinya mengutarakan bahwa pembentukan mentalitas tanpa ketergantungan pada gawai alias gadget membuktikan kapasitas luar biasa dari para generasi muda Jawa Timur.
Penetapan status ketarunaan ini membawa konsekuensi moral yang besar bagi seluruh peserta didik dalam menjaga marwah almamater di tengah masyarakat. Karakter kepemimpinan yang solid, religius, serta mandiri diharapkan melekat kuat dalam jiwa setiap kader.
"Mulai hari ini kalian tidak hanya membawa nama diri sendiri dan keluarga, kalian membawa nama sekolah dan nama taruna-taruni Jawa Timur sekaligus menjadi kader bela negara untuk menjaga NKRI. Oleh karena itu, junjung tinggi nilai-nilai kebangsaan, nilai keindonesiaan, integritas, serta kejujuran," tegasnya.
Di hadapan ribuan taruna dan taruni, Khofifah meminta agar seluruh sekolah betul-betul berkomitmen tinggi dalam menciptakan iklim pendidikan yang kondusif, aman, dan beretika di lingkungan sekolah taruna. Praktik kekerasan antarsiswa maupun perundungan berkedok senioritas dilarang keras terjadi dalam proses pendewasaan para peserta didik.
"Jangan pernah menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan persoalan serta hindari bullying karena senioritas. Mari kita bangun proses pendidikan penuh kedisiplinan tetapi juga dilaksanakan secara humanis," pesannya.
Lebih lanjut Khofifah menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur berkomitmen mendorong terwujudnya sistem pendidikan ketarunaan yang tetap berdisiplin tinggi namun mengedepankan pendekatan humanis. Sinergi antara ketegasan fisik dan kasih sayang dinilai menjadi formula terbaik melahirkan calon pimpinan bangsa yang berkualitas.
"Solidaritas yang terbangun antarsekolah taruna harus dapat terus dipelihara hingga para siswa menyelesaikan masa studi. Persaudaraan yang kokoh menjadi modal utama dalam menjaga persatuan NKRI di masa depan," imbuhnya.
Diketahui, selama tiga bulan berturut-turut, ribuan taruna taruni Jatim resmi menyelesaikan fase penting pendidikan dasar ketarunaan. Prosesi pelantikan dan pembaretan tersebut menjadi penanda dimulainya pengabdian mereka sebagai kader muda bela negara. Mereka ditempa latihan fisik, mental, serta kemandirian tanpa mengandalkan gawai selama berada di kesatrian masing-masing.
Salah satu pelajar dari SMAN Taruna Madani, Rizky Drajat mengaku sangat bahagia sekaligus berterima kasih kepada kedua orang tuanya yang telah mendidik dan mengarahkannya hingga sampai lulus dan dinyatakan diterima sebagai bagian dari SMAN Taruna Madani.
"Senang sekali dan saya ingin berterima kasih kepada ayah dan mama yang telah mendidik saya sedemikian rupa. Mohon maaf atas kesalahan saya di masa lampau dan saya ingin membahagian mereka berdua," ungkapnya. (emil)
Komentar