Petani mangga gadung klonal 21 yang populer dengan sebutan Mangga Putar Pasuruan di Kecamatan Sukorejo maupun di Kecamatan Rembang, tengah sumringah.
Betapa tidak, sejak awal september sampai sekarang, rata-rata kebun mangga milik para petani di dua wilayah tersebut, berbuah lebat alias panen raya.
Salah satunya adalah Sugiono, Petani mangga di Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo.
Saat ditemui di kebunnya, Kamis (15/10/2026) siang, Sugiono mengatakan musim kemarau dengan cuaca yang cukup terik sangat mendukung perkembangan buah mangga. Hasilnya, dari 300 pohon mangga yang ia tanam di kebun seluas 3,5 hektar, rata-rata sehari bisa dipanen sampai 5 kwintal buah mangga.
"Kalau pas berbunga sampai berbuahnya di musim kemarau, hasilnya bagus. Seperti sekarang ini, saya bisa manen 5 kwintal mangga dalam sehari," akunya.
Seluruh mangga yang dipanen tak langsung dijual begitu saja. Melainkan dipilih berdasarkan gradenya, baik Grade A, B dan Grade C alias sortir. Kata Sugiono, untuk mangga terbaik (Grade A) dijual antara Rp 25 ribu-Rp 30 ribu per 1 kilogram. Sedangkan untuk Grade B mulai harga Rp 10 ribu-Rp 15 ribu, dan sisanya sortir dijual murah, apalagi langsung dari kebunnya.
"Kalau yang grade A itu buahnya besar, bentuknya bagus, kulitnya mulus, jadi harganya paling mahal," ungkapnya.
Soal Pasar, Sugiono tak perlu khawatir. Sebab jumlah langganan yang selalu memesan mangga miliknya tak hanya dari lokal Pasuruan saja, melainkan hampir semua pasar di Jawa Timur, DKI Jakarta sampai Kalimantan.
"Kalau yang di Jatim kebanyakan mulai dari Malang, Surabaya, Sidoarjo, Jember, Madiun, Banyuwangi. Kalau di luar jatim ya ke Cirebon, Banten, Jakarta, Bogor sampai Kalimantan," terangnya.
Untuk menghasilkan buah yang berkualitas dengan jumlah banyak, pria yang juga menjabat Kepala Desa Wonokerto ini intens melakukan perawatan. Utamanya pemupukan serta pengendalian hama utama mangga, yakni lalat buah.
Saat musim panen raya seperti sekarang, dirinya memasang jebakan lalat buah pada tanaman mangga yang efektif dilakukan. Yakni dengan menggunakan botol plastik bekas yang diisi sedikit air dan diberi atraktan Petrogenol (mengandung metil eugenol) untuk memikat lalat buah jantan masuk.
"Alat perangkap ini berfungsi untuk meminimalisir hinggapan lalat buah ke buah mangga, dan sangat efektif sekali supaya buah tetap bagus dan tidak busuk," ucapnya.
Dari semua buah yang dipanennya, Sugiono mengajak para pecinta buah mangga untuk datang ke kebunnya dan merasakan sensasi memetik mangga dari pohonnya.
"Silahkan datang ke kebun kami, petik sendiri, ditimbang sendiri, bisa makan di sini," ajaknya. (emil)
Komentar