Logo Kabupaten Pasuruan
Pemerintah Kabupaten Pasuruan
Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Pasuruan Jalan Raya Raci Km. 9, Bangil, Pasuruan, 67153

Masyarakat Tengger Brang Kulon Gelar Upacara Karo

Gambar berita
27 Agustus 2018 (15:17)
Budaya
6615x Dilihat
0 Komentar
admin

Memasuki bulan kedua kalender tengger atau dua bulan setelah upacara Yadnya Kasada, warga di 11 desa di Kecamatan Tosari, Tutur dan Puspo, Kabupaten Pasuruan menggelar Upacara Karo, Senin (27/08/2018).

Upacara tersebut dilaksanakan di Halaman Balai Desa Tosari, Kecamatan Tosari, dan dihadiri Pj Bupati Pasuruan, Abdul Hamid, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pasuruan, Agung Mariyono, Muspika Kecamatan Tosari, para sesepuh hingga ratusan warga tengger.

Dari pantauan di lapangan, Upacara Karo didahului dengan tradisi Mblara'i, di mana di dalamnya menampilkan Tari Sodor/ Sodoran, sebuah tarian yang dibawakan sejak tahun 1790 oleh para sesepuh dengan membawa tongkat bambu wuluh berjumlah 12 buah.

Widyan Singgih, Tokoh Budaya Tengger menjelaskan, tari sodor dibawakan oleh 12 orang sesepuh, dimana angka 12 merupakan simbol 12 bulan yang ada dalam satu tahun. Dalam bambu yang dihias serabut kelapa dan janur tersebut, ada banyak benih palawija yang sengaja dipasang sebagai lambang bahwa adanya Tengger merupakan hasil perpaduan nama Roro Anteng dan Joko Seger yang tak lain adalah leluhur Gunung Bromo dan memiliki 25 orang anak.

"Khusus untuk tahun ini, tari sodor tidak hanya oleh sesepuh saja, melainkan anak-anak muda yang sudah bisa menghayati tarian ini," kata Singgih di sela-sela acara.

Ditambahkannya, Tari Sodor adalah sebuah tarian yang menggambarkan hubungan suami-istri leluhur suku Tengger awal hingga beranak pinak sampai sekarang. Para penari tersebut berasal dari 11 desa, diantaranya Desa Tosari, Sedaeng, Wonokitri, Podokoyo, Baledono, Mororejo, Kandangan dan Desa Ngadiwono, Kecamatan Tosari. Kemudian Desa Ngadirejo dan Kayukebek, Kecamatan Tutur, serta Desa Keduwung, Kecamatan Puspo. Seluruh desa tersebut selalu berpartisipasi dalam acara tahunan itu.

"Masyarakat selalu menyambut karo ini dengan sangat gembira. Meskipun anak sekolah, hari ini pasti diliburkan untuk bisa menjadi bagian dari tradisi dan budaya masyarakat tengger," imbuhnya.

Lebih lanjut Singgih mengungkapkan, tujuan digelarnya Upacara Karo adalah sebagai wujud ucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas diciptakannya Joko Seger dan Roro Anteng sebagai Leluhur Bromo dan 25 keturunannya. Oleh karena itu, seluruh warga, mulai dari anak-anak hingga sesepuh tak melewatkan tradisi karo sejak hari pertama hingga 10 hari ke depan.

“Upacara karo ini hukumnya wajib bagi masyarakat tengger. Makanya sekolah pun diliburkan untuk bisa menghormati acara ini,” singkat dia.

Setelah upacara pembukaan karo selesai dilaksanakan, maka akan langsung dilanjutkan dengan upacara Santi, Slametan Banyu, Pembukaan Jimat Klontong hingga puncaknya upacara penutupan di Wonokritri yang disebut Bawahan. Kata Singgih, untuk Upacara Santi atau menghormati para leluhur, setiap dukun maupun pandita tengger dan kepala desa akan melaksanakan doa di hari pertama, barulah pada hari kedua akan berdoa dari rumah ke rumah warga.

“Setiap warga akan memasang takir atau sesembahan dari kue khas tengger seperti tetel, pasungan, lupis, jenang, dan kue lainnya. Ada 5 warna kue yang menandakan 5 penjuru mata angin. Barulah setelah itu dilanjutkan dengan andon mangan, yakni tradisi berkunjung dari satu rumah ke rumah warga dan makan bersama,” jelas Singgih kepada Suara Pasuruan.

Di sisi lain, masyarakat tengger juga mengangkat Pj Bupati Pasuruan, Abdul Hamid sebagai warga kehormatan dengan symbol penyematan ikat kepala. Dalam sambutannya berharap agar masyarakat Tosari dan sekitarnya bisa lebih kreatif dalam melestarikan budaya yang sudah ada, sehingga layak jual bagi wisatawan domestic maupun mancanegara.

“Kalau tidak dilestarikan, kesannya akan boring sehingga wisatawan juga tidak tertarik untuk datang kembali. Maka dari itu saya menghimbau kepada masyarakat sekitar untuk lebih kreatif dalam mengembangkan seni dan budaya yang sudah ada, meskipun tidak merubah keaslian atau tata cara budaya itu sendiri,” ucapnya. (emil)


Ringkasan AI Beta

Ringkasan AI adalah alat untuk mempermudah Anda membaca berita dalam bentuk poin-poin penting. Ringkasan ini dibuat oleh kecerdasan buatan (AI), dan kami tidak menjamin keakuratan sepenuhnya.
Silakan klik tombol di bawah ini untuk menghasilkan ringkasan berita oleh AI.

Komentar


Tinggalkan Komentar:

Captcha

Berita Lainnya

Article Image
Taman Chandra. Pilihan Satu-Satunya Tempat Wisata Gratis Mulai Sore sampai Malam

Masih bingung mencari tempat wisata yang super duper meriah di Pasuruan?Jawabann...

Article Image
Rayakan Hari Bhayangkara ke-80, Wabup Shobih Gowes Bareng Polres Pasuruan dan Santri PP Dalwa

Polres Pasuruan menggelar kegiatan Gowes Bareng Ulama dan Umaro pada Jumat, 26 J...

Article Image
Remaja Lekok Ini Bersyukur Jadi Pelajar Sekolah Rakyat. Pendidikan Fokus, Orang Tua Diberdayakan

Program pendidikan Sekolah Rakyat (SR) terbukti memberikan banyak hal baik bagi...

Article Image
Tutup Liga Sepak Bola Piala Bupati Antar Pelajar SMP. Mas Rusdi : Kita Bangun Fondasi Sepakbola secara Berjenjang, Elit dan Disegani

Liga Sepak Bola Piala Bupati Antar Pelajar SMP Sederajat se-Kabupaten Pasuruan t...

Article Image
Pemkab Pasuruan dan Baznas Gelar Gebyar 10 Muharram "Bahagia Bersama Anak Yatim"

Pemerintah Kabupaten Pasuruan bersama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menggel...