Kabupaten Pasuruan berhasil meraih Juara II dalam ajang Festival Ekonomi
Syariah (FESyar) Award Jawa Timur 2026 untuk kategori Pariwisata Ramah Muslim. Penghargaan
diserahkan Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak kepada Wakil
Bupati Pasuruan, Sobih Asrori di Grand City Convention & Exhibition,
Surabaya pada hari Minggu (27/9/2026).
Capaian prestasi
membanggakan tersebut berkat pengembangan pariwisata ramah muslim secara intens yang
berfokus pada penyediaan layanan tambahan. Tujuannya tidak lain untuk memenuhi
kebutuhan wisatawan muslim, tanpa mengubah karakter atau jati diri budaya
lokal.
Adapun
beberapa pilar utama yang dipenuhi Pemerintah Kabupaten Pasuruan dalam mengembangkan
pariwisata ramah muslim. Baik dari aspek Infrastruktur Ibadah dengan memastikan
ketersediaan fasilitas ibadah yang bersih, layak dan mudah diakses di setiap
daya tarik wisata maupun instrumen lainnya. Yaitu Kuliner Halal yang dilakukan
dengan mendorong sertifikasi halal dan penerapan zona higienis untuk produk
makanan serta minuman lokal. Berikut, Standarisasi Pelayanan dengan memberikan
pendampingan kepada pelaku usaha pariwisata dan pengelola desa wisata untuk
menerapkan prinsip ramah muslim.
Event FESyar
merupakan rangkaian Road to Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF)
2026. Diselenggarakan selama tiha hari (25–27 September 2026), kegiatan mengusung
tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Regional
Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital”.
Kata Wakil
Gubernur Emil, pengembangan Zona KHAS di berbagai daerah diharapkan mampu
menghadirkan produk kuliner yang tidak hanya memenuhi aspek kehalalan saja. Melainkan
juga memperhatikan kebersihan dan kesehatan.
“Cita-cita
kita Indonesia menjadi pemimpin di dunia untuk ekonomi dan keuangan syariah.
Adanya Zona KHAS ini, harapan kita bukan hanya halal saja. Tapi juga higienis,”
ujarnya.
Kata
pria berpembawaan kalem tersebut, konsep pariwisata ramah muslim bukan berarti
membatasi wisatawan berdasarkan agama. Meskipun destinasi wisata tetap terbuka
bagi seluruh wisatawan, akan tepapi dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan
kenyamanan, khususnya bagi wisatawan muslim.
“Pariwisata
moslem friendly artinya tetap welcome kepada siapapun. Tapi bagi
wisatawan muslim, dia merasa tenang. Contoh penyediaan penunjuk kiblat dan
sarana prasarana yang membuat muslim yang datang ke sana merasa tenang. Ada
makanan halal dan lain sebagainya,” tandas Wakil Gubernur Emil.
Ditambahkannya,
penerapan konsep tersebut dapat dilakukan melalui penyediaan berbagai fasilitas
pendukung. Misalnya, penunjuk arah kiblat, makanan halal hingga sarana dan
prasarana lainnya yang memberikan rasa nyaman bagi wisatawan muslim. (Eka
Maria)
Komentar