Warga Dusun Sarirejo, Desa Arjosari, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan sukses menyulap limbah minyak jelantah (minyak bekas dipakai dan berwarna cokelat keruh) menjadi lilin aromaterapi ramah lingkungan.
Dia adalah Laily Rochmatin, warga RT 1 RW 1 yang memberanikan diri untuk membuat Eco Candle, sejak dua tahun lalu.
Saat ditemui di rumahnya, Jumat (30/10/2026), Laily terlihat sibuk memproduksi eco candle pesanan dari Pertamina. Totalnya ada sekitar 100 pieces yang harus diselesaikan dalam waktu dekat.
Menurutnya, awal ketertarikannya pada eco candle terlintas saat menjadi anggota Bank Sampah Sari Asri. Dari 25 macam sampah yang dikelola, ia tertarik untuk bagaimana caranya bisa merubah minyak jelantah menjadi sebuah produk yang cantik dan menarik.
"Menurut kami, dari 25 macam sampah yang bisa menghasilkan produk turunan paling murah ya minyak jelantah, dan langsung punya ide dijadikan lilin," ungkapnya.
Untuk bisa membuat eco candle, Laily mengaku otodidak alias belajar sendiri melalui youtube maupun tiktok. Hampir 6 bulan lamanya, trial and error akhirnya bisa ia lewati sampai bisa membuat eco candle yang menawan.
"Kalau efektifnya ya setahun terakhir ini. Artinya mulai ada yang pesan dan tertarik dengan produk yang saya buat," imbuhnya.
Dari semua eco candle yang dibuat mengusung konsep substainibility and eco friendly. Hal itu dapat dilihat dari semua wadah lilin yang terbuat dari kayu. Begitu pula dengan toping yang dipasang di atas lilin menggunakan rempah-rempah. Kata Laily, semua produknya harus memunculkan khas nusantara, termasuk besek (sebutan untuk wadah yang dibuat dari anyaman kayu atau bambu) yang dipakai sebagai wadah oleh-oleh khas eco candle buatannya.
"Kami juga ingin membantu pengrajin besek yang ada di sekitar tempat tinggal kami, " singkatnya.
Kini, eco candle yang ia buat sudah ada pangsa pasarnya sendiri-sendiri. Diungkapkan Laily, ada banyak pihak yang tertarik pada produk buatannya. Termasuk Pertamina dengan pesanan sekitar 100 pieces. Jenis aromanya pun beragam, mulai dari lavender, serai, vanilla, sedap malam dan kopi.
"Paling laris ya di online sih. Meskipun memang masih belum banyak tapi alhamdulillah lancar," ucapnya.
Sementara itu, Ketua Dekranasda Kabupaten Pasuruan, drg Merita Rusdi Sutejo dibuat kagum dengan produk Mahasa Eco Candle. Sebab berhasil memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi sebuah karya yang bernilai jual tinggi.
"Satu lilin diameter 8 sentimeter harganya 55 ribu, wah worth it sekali karena bagus, unik dan cantik, plus harum lagi," tegasnya.
Mela Rusdi - sapaan akrab istri Bupati Pasuruan ini mengajak Laily untuk semakin berinovasi, agar produknya semakin laris manis di pasaran.
"Selamat saya sampaikan. Jangaj lupa terus berinovasi biar produknya semakin menarik," himbaunya. (emil)
Komentar